Berburu sepatu di Maastricht

Hari sabtu, 8 Febaruari 2020, saya menemani kolega mencari sepatu Nike Air Jordan sepatu legendaris yang mendunia. Bukan untuk dipakai kolega sebenarnya tetapi titipan anaknya yang memang penggila Jordan. Bagi saya, ini sepatu tidak murah. Sudah dicari diberbagai toko sepatu di Nijmegen, Den Haag dan juga Amsterdam tidak ketemu. Kemudian kita coba peruntungan mencari di kota fashion Belanda, Maastricht.

Maastricht, Belanda

Karena saya tidak begitu paham fashion, dan juga tidak tertarik mempelajarinya maka yang saya lakukan hanya city tour. Ikut jalan kaki mengelilingi sempitnya gang-gang bangunan. Kamera tidak pernah lepas dari tangan saya, sesekali jepret. Kota tua yang benar-benar asri, indah dan memang menjadi pusat fashion Belanda. Letaknya yang berada di ujung selatan negara dan berbatasan langsung dengan Belgia menjadikan orang yang tinggal di sini tidak hanya orang asli Belanda. Mereka berasal dari berbagai negara, termasuk dari Prancis dan Jerman.

Memang ini adalah kota fashion, sama halnya dengan Bandung. Sangat mudah kita temukan gerai-gerai memamerkan busana kenamaan Eropa. Hampir di setiap gang kita jumpai gerai-gerai kecil semacam kios atau toko kecil. Mereka menjual beberapa stell pakaian. Setiap ‘gantungan’ bertuliskan korting, tidak pernah lepas dari amatan. Sesekali kami hitung berdasarkan kurs rupiah dan dikurangi persentase kortingan. Ternyata tetep saja mahal, untuk ukuran saya. Pakaian yang sudah di korting/ diskon 50% kemudian ditambah 20% kemudian dikurskan ke rupiah ternyata masih di atas 5 jt. Itu hanya contoh. Jiwa fakir ternyata masih meronta-ronta.

Kota sangat kecil dengan bangunan kuno Eropa

Luas kotanya sedikit lebih besar dibandingkan kota Salatiga. Kota Maastricht memiliki luas 60,03 km² sedangkan Kota Salatiga sedikit di bawahnya yaitu 56,78 km². Kendati luas Maastricht lebih luas dibandingkan salatiga, namun jumlah penduduknya justru lebih sedikit. Di tahun 2011, Maastricht dihuni oleh 121.050 jiwa, sedangkan Kota Salatiga dihuni oleh 170.332 jiwa di tahun yang tidak jauh berbeda, 2010.

Meskipun kecil dan dihuni oleh penduduk yang tidak terlalu banyak, kota ini memiliki peran penting bagi Eropa. Uni Eropa yang terbentuk pada 7 Februari 1992 melalui perjanjian uni eropa yang ditandatangi oleh komunitas Eropa di Maastricht dan disebut sebagai perjanjian Maastricht. Jadi kota ini menjadi saksi persatuan Eropa yang kemudian memberlakukan satu mata uang bersama yaitu Euro.

Kunonya bangunan Eropa bisa kita dapatkan di Maastricht. Para penyuka desain-desain arsitektur saya rasa tidak akan bosen berlama-lama di kota kecil ini. Di sini juga ada restoran Indonesia lengkap dengan sajian nasi ramesnya. Namun saya tidak mampir ke sini. Makanan Indonesia di sini menjadi makanan Internasional, harganya jadi relatif lebih mahal dibandingkan dengan jajanan lokal setempat.

Saya lebih memilih Shawarma, daging sapi khas turki. Selain halal, harganya juga relatif lebih terjangkau. Sekitar 5 Euro sudah bisa makan dan kenyang. Untuk masakan Indonesia di Belanda, harganya bisa lebih dari 10 Euro. Dan ini normal karena memang masakan Indonesia menjadi panganan internasional di sini.

Lama berjalan kaki. Lebih dari 2 jam saya rasa. Keluar masuk toko-toko busana dan sepatu menemani kolega mencari sepatu untuk anaknya. Capek, tetapi ya tetap bisa menikmati eksotiknya Kota Eropa. Suhu dingin 0° terasa bukan penghalang. Sesekali kamera saya masukkan ke dalam jaket, sekedar untuk menghangatkan tangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s