Merasakan pedasnya sambel negeri di Den Haag

Salah satu yang dikangeni saat berada di negeri orang adalah masakan lokal Indonesia. Baru dua minggu di negeri kincir angin, rasanya lidah mulai ingin icip-icip pedasnya masakan lokal negeri sendiri. Mulailah mencari warung-warung Indonesia di Belanda. Ternyata cukup banyak, termasuk di kota dimana saya tinggal saat ini, Nijmegen. Tetapi saya memutuskan tidak makan di kota ini, cari tempat lain. Sambil ingin melihat sekolah Indonesia di Belanda, tepatnya di Kota Den Haag, saya memutuskan cari restoran Indonesia di sana.

Den Haag, Belanda

Perjalanan sekitar 2,5 jam dari Nijmagen, harus ganti kereta terlebih dahulu di Utrech kemudian langsung menuju Den Haag. Ini adalah kali pertama saya bepergian sendiri menggunakan tiket one-day ticket. Berbeda dengan tiket pada umumnya, kita bisa mendapatkan diskon besar. Cukup membayar €42 untuk perjalanan PP asalkan di jalur yang sama yaitu Nijmegen – Den Haag. Kita bisa turun dimanapun asalkan di jalur itu, kemudian naik kembali tanpa harus dipungut ongkos lagi. Cukup berbeda dengan tiket oneway KA di Indonesia, di Belanda tiket cukup fleksibel. Bisa saja kita beli tiket tetapi tidak mendapatkan tempat duduk seperti commuter line di Jakarta.

Menu nasi rames Bude Kati

Sekitar pukul 11.00 pagi saya sampai di Stasiun centraal Den Haag. Keluar stasiun saya berjalan kaki menuju pusat kota. Meskipun rintik-rintik hujan terus mengguyur, saya terobos saja. Cuaca waktu itu memang kurang bersahabat, -1°C. Memang bulan Februari adalah musim dingin, meskipun tidak turun salju. Besarnya penasaran ingin mengetahui lebih jauh Kota Den Haag menjadi penghangat tersendiri. Sesekali ngemper di toko-toko yang memiliki teras, sekedar berteduh sebentar.

Restoran Indonesia di Den Haag, banyak banget….

Meninggalkan station centraal Den Haag melewati perpustakaan Leiden University, universitas tertua Belanda, sampailah kita di Restaurant Indonesia. Di sini ternyata banyak banget kuliner Indonesia. Sangat berbeda dengan yang ada di Nijmegen dan Utrech. Kuliner di Den Haag jauh lebih banyak dan mudah sekali ditemui. Hampir di setiap ruas jalan utama ada restoran dengan cita rasa Indonesia baik yang dibuka oleh orang Indonesia atau orang-orang Suriname keturunan Jawa.

Di ujung jalan Wagenstraat atau jalan Wagen, kita akan bertemu satu restoran Indonesia, warung Bude Kati. Langkah saya terhenti di sini, setelah melewati banyak sekali restoran Indonesia. Mungkin ukuran warungnya yang tidak terlalu besar, saya mengestimasi harga makanannya juga tidak terlalu gede. Masuklah saya ke dalam, dan disambut langsung oleh pemiliknya. “Selamat datang” – sapa mas-mas berbadan cukup besar di balik bilik kecil seperti resepsionis. Wah.. saya bertemu orang Indonesia di negeri para bule. Seneng banget rasanya. Langsung nerocos tanya-tanya dari asal, hingga berapa tahun berada di sini. Sayangnya justru nama beliau tidak saya tanyakan.

Warung Bude Kati

Di sini saya pesen nasi rames dan kopi hitam. Di dalam warung, saya hanya sendiri tidak ada pelanggan lain. Hanya saya dan pemilik warung. Ngobrol ngalor-ngidul, akhirnya saya tahu kalau mas pemilik warung ini adalah orang Wonogiri, Jawa Tengah. Beliau lahir di Belanda dan sangat fasih bicara Bahasa Indonesia. Setiap kata, aksen dan susunan kalimatnya, sangat Indonesia banget. Tidak ada kekurangan sedikitpun. Namun disaat saya ajak ngomong Jawa, baru mundur teratur. Sekitar 10 menit kami ngobrol mengisi waktu tunggu, akhirnya pesanan saya terhidang lengkap dengan sambel dan kerupuk. Indonesia benget deh pokoknya.

Tidak lupa sambel balado juga tersaji apik. Indonesia raya banget, nasi rames khas Jawa, sambelnya khas sumatera. Kombinasi yang sempurna. Sebenarnya ada sambel terasi, namun saya memilih kombinasi ala nusantara. Pedesnya juga tidak kalah sama sambel di negeri sendiri. Pedes parah. Saking pedasnya, saya hanya cocol sedikit saja. Dan kata mas penjaga, sambel ini yang menjadi daya tarik konsumen untuk terus mengular datang.

Restoran yang sangat bersih. Meskipun saya hanya bertemu sama pemilik warung dan sekaligus pelayan warung, tidak terlihat pekerja lainnya. Saya tidak tau bagaimana manajemen kerjanya, sehingga restoran ini begitu bersih meskipun pekerjanya sangat minimalis. Standar kebersihan di Belanda memang sangat tinggi. Tidak segan-segan, pemerintah Belanda akan menutup restoran jika tidak mematuhi protokol higienis. Seperti yang pernah diterima oleh restoran Garoeda di Den Haag, ditutup sementara oleh pemerintah Belanda.

Belanda, kampung kedua setelah Indonesia

Saya rasa tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa Belanda memang kampung kedua setelah Indonesia. Selain banyaknya kuliner Indonesia, kita juga bakal mudah menemukan orang-orang Indonesia di sini. Orang jawa Suriname yang sangat fasih bicara Jawa juga sangat mudah kita jumpai. Banyak orang Indonesia yang bekerja di sini, dari pekerja toko hingga pegawai negeri sipil (PNS). Bahkan co-supervisor saya juga orang Indonesia.

Kampung kedua ini tidak hanya saya rasakan karena mudahnya bertemu orang Indonesia, tetapi hospitality orang Belanda juga hampir sama dengan kita. Contohnya, di saat saya menunggu kereta di Amsterdam untuk pertama kali, saya merasa bingung dan ada seorang petugas yang menghampiri saya dan menyapa. Tidak hanya bertanya, tetapi juga ngobrol basa-basi khas orang-orang Jawa. Bertanya darimana, apakah baru pertama kali ke Belanda dan lain sebagainya. Ramah dan cukup helpfull.

Sama halnya saat di Schiphol International Airport, di bagian pemeriksaan. Di saat melewati metal detector, tiba-tiba alarm berbunyi menandakan saya harus diperiksa. Dengan sangat sopan petugas keamanan meminta ijin untuk memeriksa sabuk. Salah satu petugas bilang: Sorry, we have to check your belt. Sayapun mempersilahan sambil melepas sabuk ikat pinggang. “Stop..stop..” – seru petugas bandara, ternyata saya tidak harus melepasnya. Saya pikir seperti di bandara-bandara Indonesia yang harus melepas sepatu dan ikat pinggang. Ternyata cukup digeledah dan setelahnya mempersilahkan saya pergi sambil tersenyum lebar.

Hostipality petugas imigrasi yang sangat jarang saya temui. Mungkin hanya di Indonesia dan Belanda, petugas imigrasi yang memiliki sikap ramah-tamah seperti itu. Berbeda dengan negeri seberang yang mengaku sebagai bangsa serumpun, saya pernah kena semprot gara-gara kesalahan scan sidik jari. Karena terlalu lama, jari tangan saya angkat dari mesin scanner, dan petugas imigrasi membentak sambil melotot. Benar-benar bukan budaya negeri timur.

Cita rasa Indonesia tetap bisa kita jumpai di kota-kota Belanda. Tidak harus di Den Haag seperti uraian saya ini. Di kota-kota kecil lain seperti Nijmegen juga ada dan mudah dijumpai. Tidak perlu khawatir tidak bisa mendapatkan sambel dan kerupuk di sini. Bisa kita jumpai dengan mudah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s