Bali Saat Pandemi

Hal apa sih yang langsung terpikir waktu denger kata “Bali”?

Wisata? Pantai? Budaya? Turis bule?

Tapi itu semua jadi berbeda di masa pandemi seperti sekarang ini. Bali rasanya sepi, nggak banyak turis, toko-toko dan tempat wisata banyak yang tutup, udah nggak kayak Bali biasanya deh.

Di akhir bulan Agustus, saya dan beberapa dosen dari tim inti pergi ke Bali untuk mengikuti training pengembangan Center for Integrated Coastal Zone Management (ICZM) Universitas Diponegoro (sekalian promosi biar terkenal soalnya baru, hihi). Awalnya, kami berencana untuk menjadwalkan pelatihan ini di Bali berhubung kantor pelatihan MDF Indonesia berada di sana. Namun karena adanya pandemi dan pembatasan aktivitas, sempat terpikir untuk mengalihkan menjadi pelatihan online. Tapi akhirnya, pelatihan tetap dilaksanakan secara tatap muka walaupun harus mundur dari jadwal semula. Yah, pasti akan sulit dan kurang rasanya kalau mengikuti pelatihan tidak langsung bertatap muka. Untungnya, aktivitas untuk turis domestik ke Bali sudah dibuka saat itu.

Kami memilih hotel di daerah Kuta dan hanya butuh 2 menit jalan kaki menuju Pantai Kuta. Asik kan? Biasanya, jalan sepanjang Pantai Kuta itu selalu ramai, padat turis, dan macet karena banyak kendaraan yang mencari parkir. Yang terkenal juga di area Kuta, yaitu Jalan Legian yang dipenuhi oleh pertokoan, kendaraan, dan turis lalu lalang. Tapi kali ini kondisinya berbeda. Hotel sepi. Jalanan kosong. Toko-toko dan minimarket di sekitar hotel pun masih tutup. Semua sepi.

Lalu bagaimana nasib warga lokal Bali? Dari cerita staf hotel tempat saya menginap, pihak hotel pun mengurangi jumlah staf yang bekerja. Pun juga tour guide yang menjemput kami di bandara dan sempat mengantar jalan-jalan juga mengalami langsung dampak adanya pandemi ini. Tidak ada wisatawan. Tidak ada pekerjaan. Tidak ada pemasukan. Sektor pariwisata memang sangat terpukul di musim ini.

Toko-toko di daerah Kuta yang masih tutup

Pemerintah Provinsi Bali semula menetapkan pembukaan aktivitas wisata untuk turis domestik dibuka pada 31 Juli 2020. Untuk turis mancanegara direncanakan pada 11 September 2020, namun akhirnya ditunda. Pemerintah pusat belum mengizinkan destinasi ke Bali dibuka untuk turis mancanegara karena masih tingginya kasus penyebaran Covid-19. Rencana selanjutnya kemungkinan pada bulan Desember, tetapi hal ini masih bisa berubah sewaktu-waktu.

Setelah pelatihan selesai, kami memiliki waktu 2 hari untuk berkeliling Bali. Jangan ditanya berapa kali kami merasa zonk karena mengunjungi beberapa destinasi wisata yang ternyata masih tutup hahaha. Saya yang awalnya semangat ingin ke Desa Wisata Penglipuran karena belum pernah mengunjungi, ehh desanya sementara ditutup. Auto sedih deh. Akhirnya kami menuju ke daerah Kintamani untuk melihat Danau Batur lalu ngopi dan menghabiskan sore di daerah Tegallalang.

Hari selanjutnya menuju Danau Beratan Bedugul. Kami tiba saat masih pagi, masih sepi (tentu saja), jadinya bisa foto-foto nggak pakai antri! haha. Ya itu salah satu keuntungan berwisata ke Bali di saat seperti ini. Enak sih sepi, tapi masih banyak yang tutup juga, jadi siap-siap ya kalau nanti zonk lagi. Baru juga ngrencanain mau lihat tari kecak di Pura Uluwatu, akhirnya zonk juga hahaha. Padahal tour guide kami sudah bertanya ke temannya yang agen wisata dan bilang hari itu buka. Karena sudah jauh-jauh ke selatan demi melihat kecak di Uluwatu dan ternyata tutup, kami melipir saja ke Pantai Uluwatu untuk melihat sunset. Ya gimana lagi, memang kebanyakan cuma pantai aja yang masih buka. Untungnya masih bisa lihat sunset waktu itu (nggak mendung/tertutup awan). Ah ya sudahlah, lain waktu kesini lagi kalau keadaan sudah normal kembali, pikirku. Siapa tahu dengan partner wisata yang berbeda. Ehem..

Sunset di Pantai Uluwatu

Mendongkrak kembali sektor pariwisata seperti ini memang rasanya tidak mudah. Kita semua jadi belajar bagaimana caranya mempersiapkan dan beradaptasi jika sektor pekerjaan kita tiba-tiba terhenti oleh suatu faktor. Bahkan ada yang membuat analisis potensi ekonomi selama pandemi Covid-19 seperti berikut.

Sektor pariwisata menjadi sektor paling terpuruk saat ini. Tapi bukan berarti tidak bisa bangkit kembali. Harus perlahan-lahan diusahakan untuk pulih dengan tetap memperhatikan kondisi sekitar dan tentunya kesehatan tetap menjadi prioritas. Kesadaran akan hidup sehat mulai digiatkan kembali. Sekarang di setiap tempat wisata, restoran, bahkan hotel disediakan fasilitas tempat cuci tangan di bagian depan. Semuanya juga ingin pandemi ini segera berakhir, walaupun tidak ada yang tahu kapan persisnya. Tetap semangat, stay healthy, stay sane everyone.

Satu pemikiran pada “Bali Saat Pandemi

  1. Betul, saya di Bali sekitar 9-24 Maret 2021.
    Kuta – Legian – Seminyak seperti kota mati, ruko pada tutup, apalagi Joger, cabang di Kuta dan di arah Bedugul juga tutup.
    Kuta ngeselin banget karena cuci kaki bayar 3000, parkir mobil bayar 10000 tapi buang air kecil 2000, mending bilang buang air kecil aja daripada cuma cuci kaki doang.
    Tanah Lot seperti perkampungan biasa, sepi ke arah normalnya perkampungan biasa sehari-hari. Tiket masuk relatif mahal, 20000 dewasa, 15000 mobil.
    Agak ramai hingga ramai sekali di area Sanur – Sindu – Mertasari & area Pandawa – Green Bowl – Melasti, apalagi kalau akhir pekan, susah parkir.
    Mertasari hanya bayar parkir mobil 5000, untuk tarif toilet di 2000 buang air kecil, 3000 buang air besar, 5000 bilasan.
    Kalau saya, nggak pernah bosan ke Melasti meskipun ada tiket masuk untuk anak 2000, dewasa 8000, mobil 5000, motor 3000, mirip di Pandawa tapi enak Melasti aja daripada Pandawa.
    Melasti area parkir luas, taman banyak dan indah penataannya, tempat bilasan banyak dan gratis termasuk toilet, pasir lembut tak berkarang, ada free Wi-Fi juga.
    Pulau Serangan padat penduduk tapi banyak kapal tergeletak. Area pelabuhan ditutup sehingga tidak bisa menuju ke penangkaran hiu tapi penangkaran penyu masih buka, tiket 10000 per orang, parkir gratis, toilet gratis.
    Uluwatu – Padang2 – Blue point sepi juga, disini parkir gratis, tiket masuk dewasa 10000, toilet gratis.
    Dreamland – Balangan juga sepi. Masuk mobil 10000. Tarif toilet wudhu atau buang air kecil atau buang air besar sama 3000, bilasan 5000.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s