Banyak kejutan menuju Kabupaten Asmat, Papua

Asmat, menyebut nama ini kita akan langsung berpikir tentang suku, budaya dan patung. Ya! memang benar, tapi kali ini saya akan sedikit bercerita keunikan Asmat dari sisi lain. Traveling!

Perjalanan ini merupakan pengalaman pertama saya menuju kabupaten Asmat yang tidak terlupakan. Asmat merupakan sebuah kabupaten dengan ibu kota Agats.

Keseruan ini saya rasakan ketika rombongan kami menuju ke Kabupaten Asmat melalui Kota Timika, Kabupaten Mimika. Menuju kota ini tidaklah mudah, ada beberapa moda transportasi yang bisa digunakan untuk mencapainya yaitu udara dan air. Bagaimana dengan darat? Lupakan dulu transportasi darat, sebagaimana kita tahu akses di bumi papua, transportasi darat sangat terbatas. Setelah berdiskusi transportasi apa yang musti dipilih, kami memutuskan melalui transportasi udara, kenapa? Karena pertama waktu lebih singkat dan kedua transportasi air sangat beresiko dan jadwalnya pun tidak setiap saat ada. Mencari tiket penerbangan di papua juga tidaklah mudah seperti menggunakan aplikasi yang kita kenal, kala itu tiket hanya bisa didapatkan on the site. Beruntung kala itu saya dan rombongan dibantu oleh seorang saudara yang berada di kota Timika. Kami dibantu untuk mencarikan tiket penerbangan ke kota asmat.

Sehari sebelum jadwal keberangkatan, pukul 19.00 WIT kami tiba-tiba mendapat pesan dari agen. Secara mendadak kami diminta untuk check in dan menimbang semua barang bawaan termasuk menimbang diri, pada penerbangan perintis memang berat badan masuk hitungan. Sontak kami gelagapan untuk melakukan check in padahal penerbangan masih keesokan harinya!

Hari keberangkatan pun tiba, kami bergegas ke Bandar udara Mozes Kilangin Timika. Waktu menunjukan pukul 06.00 WIT, kami sampai di bandara Mozes Kilangin. Setelah melalui gerbang screening kami diarahkan menuju ruang tunggu. Setelah menunggu tidak terlalu lama, pesawat yang akan menerbangkan kami datang. Tepat pukul 07.00 WIT dengan kondisi cuaca yang bagus, pesawat berkelir hijau putih melakukan take off menuju kabupaten tujuan kami. Terdengar suara baling-baling di kanan kiri kami yang begitu semangat untuk membawa pesawat ini terbang. Dibalik jendela sebelah kiri nampak jelas sekali sisa-sisa penambangan berada tepat disamping kota Timika. Setelah selesai dengan pemandangan residu tersebut, kami dimanjakan dengan pemandangan hamparan hijau dengan aksen liukan sungai. Di sebelah kanan jendela, pemandagan delta dan laut Aru menjadi hidangan.

Lima puluh menit perjalanan dengan pemandangan, terdengar suara pilot berkomunikasi dengan ATC bandara Ewer. Pesawat landing dengan mulus. Melihat keluar jendela, saya dikejutkan dengan warga yang duduk-duduk bersantai di pinggir bandara bercengkrama dengan yang lainnya. Ada yang bersantai pada hammock yang dikaitkan diantara pohon kelapa, ada juga yang mengamati pesawat yang menuju apron.

Rasa penasaran terbayar setelah turun dari pesawat, setelah saya amati ternyata memang area bandara tidak dibatasi oleh pagar. Berjarak kurang lebih 50 meter dari landasan pacu terdapat permukiman warga. Selesai mengamati menuju apron bandara untuk mengambil barang-barang. Betapa terkejutnya saya ketika mengetahui bangunan bandara hanya terbuat dari papan tidak ada conveyor belt tempat tas-tas dan bagasi diletakan. Selesai dengan tas dan barang bawaan, pikiran saya adalah bagaimana caranya menuju ke pusat kota. Lagi-lagi saya dikejutkan dengan sesuatu yang tidak disangka-sangka, seorang warga lokal menghampiri dan menawari saya speed boat!! Iya perahu untuk menuju kota Asmat. Seakan dunia berhenti sejenak, saya kembali sadar setelah mereka menjelaskan akses menuju ke ibukota Kabupaten Asmat, Kota Agats. Ternyata, kota Asmat dan Bandara Ewer dipisahkan oleh muara sungai, sehingga untuk menuju pusat kota harus menggunakan speed boat. Setiap orang diwajibkan untuk membayar 100 ribu agar bisa menaiki transportasi tersebut.

Perjalanan menggunakan speed boat ditempuh dalam waktu 30 menit. Cukup lama, karena memang harus keluar dari satu sungai, menuju pinggiran laut lepas dan memasuki mulut sungai lainnya. Speed boat diawaki oleh dua orang. Satu orang bertugas mengarahkan dan satu orang lagi bertugas mengemudikan. Mereka bercerita, banyak speed boat yang tenggelam dikarenakan menabrak gelombang besar. Memasuki mulut sungai Asewet, tampak dari kejauhan sebuah keramaian layaknya kota. Hati sudah mulai tenang karena sebentar lagi tidak harus diguncangkan oleh perahu akibat gelombang.

Sampai di dermaga, kami disambut oleh masyarakat lokal yang ternyata menawarkan jasa ojek. Kejutan kembali saya dapatkan setelah mengetahui kendaraan yang mengangkut kami ke penginapan. Setelah saya perhatikan, motor yang saya naiki adalah motor bertenanga listrik. Mungkin hanya motor ini yang bertenaga listrik pikir saya. Keluar dari area pelabuhan, dan menuju jalan raya, saya semakin terkejut. Banyak motor berlalu lalang tapi tidak ada suara!!! Setelah mengobrol dengan tukang ojek, ternyata di kota Agats memang jarang sekali bahkan tidak ada motor dengan bahan bakar bensin, dia berkata bahkan hanya terdapat satu mobil di kota Agats!!! Iya!! dan itu adalah mobil ambulan! Waktu yag dibutuhkan untuk menuju penginapan kurang lebih selama 15 menit dengan ongkos ojek 15 ribu rupiah

Satu pemikiran pada “Banyak kejutan menuju Kabupaten Asmat, Papua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s