Berada di kota dimana semua orang tidak berdiri diatas tanah

“Membuka pintu” kota Agats

Jika pada artikel sebelumnya saya bercerita tentang kejutan-kejutan yang saya alami dalam perjalanan menuju kota Agats, kali ini saya akan berbagi pengalaman selama berada di kota Agats.

Selama diatas ojek motor listrik, saya mengamati lingkungan sekitar dalam perjalanan. Dalam anggapan saya, ah ini sama saja dengan kota-kota yang lain cuman kebetulan saja sedang melewati jalan ini. Saat itu ojek membawa saya melewati jalan semacam jembatan kayu. Jalan kurang lebih selebar 2 meter. Konstruksi ini layaknya jembatan dengan tiang-tiang penyangga dibawahnya. Rumah-rumah penduduk berada di kanan-kiri jembatan tersebut terpisah dengan jembatan itu. Setiap rumah rata-rata memiliki akses jembatan kecil selebar kurag lebih 1 meter.

Sedikit mundur kebelakang, sebelum saya ke Asmat, saudara saya yang berada di Timika pernah bercerita dengan saya. Dia berkata bahwa kalian beruntung sekali bisa ke kota Agats. Batinku cuman tertawa, apa iya beruntung. Dia melanjutkan, kota Agats itu kota yang unik, orang-orang tidak berdiri di atas tanah katanya. Hmmmm…… pikiranku masih menolak cerita itu.

Kembali lagi pada perjalanan menuju penginapan, 15 menit setelah berkendara dengan kecepatan 20 km/jam, tiba-tiba kendaraan berhenti pada sebuah penginapan. Saya diantar menuju di sebuah penginapan yang katanya di kota Agats. Penginapan kayu itu berada kurang lebih 5 meter di sisi sebelah kiri jalan dengan gerbang kayu usang dan jembatan kayu. Penginapan itu bernama Sang Surya milik Keuskupan Agung Asmat.

Masuk penginapan, kami langsung disuguhi oleh patung-patung yang siap untuk dikirim ke luar kota. Saat melihat label harga… hmmm… mahal sekali. Selesai dengan administrasi langsung diantarkan ke kamar-kamar. Kamar yang cukup besar kira-kira 5×5 meter dengan 2 tempat tidur single. Fasilitas yang cukup lengkap dengan kamar mandi dalam dan kamar mandi luar dan terdapat kanti yang berada di depan penginapan. Kantin ini di kelola oleh mantan biarawati dari jawa, jadi jika kalian orang jawa makan di tempat ini pasti cocok!

Menikmati kota Agats

Dibandingkan dengan kota-kota lain di Indonesia, kota Agats merupakan kota yang kecil. Kota ini memiliki luas sekitar 700km2. Walaupun kota Agats adalah kota yang kecil, kota ini memiliki keunikan khusus yang tidak dimiliki oleh kota-kota lain di Indonesia. Kota yang memiliki landmark tugu tangan ini sepenuhnya berada di atas lumpur. Sore itu saya diajak oleh seorag teman untuk memutari kota Agats dengan berjalan kaki. Sama seperti ketika naik ojeg, pemandangan kanan-kiri berupa rumah panggung. Tidak lama berjalan, rupanya tidak semua jalan masih berupa papan, terdapat jalan-jalan beton yang telah dibangun oleh pemerintah. Jalan-jalan beton ini juga bekonstruksi seperti layaknya jembatan. Tidak jauh berjalan, kami melewati sekolah. Terdapat pemandangan yang menarik. Kalau biasanya lapangan adalah tanah,berbeda di kota Agats, lapangan di kota Agats adalah hamparan papan!!!

Perjalanan yang semakin jauh, membawa saya pada sebuah lokasi yang sedag dipersiapkan untuk menjadi permukiman baru. Terlihat akses jalan sudah dibagun oleh pemerintah, juga kami dibawa menuju ke jembatan merah putih yang belum lama diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Tidak jauh dari jembatan itu, terdapat bangunan untuk mengolah air minum.

Berbicara air minum, atau air bersih pada umumnya, kota Agats walaupun berada di pinggir sungai mengalami kesusahan air bersih. Jika dilihat dari struktur tanahnya, kota Agats berdiri di atas lumpur. Menjadi logis memang jika air bersih sangat terbatas. Berdasarkan cerita, masyarakat sangat bergantung pada air hujan untuk memenuhi kebutuhan akan air bersih. Masyarakat mengalirkan air hujan ke dalam bak-bak penampungan di dekat rumah dengan pagar yang kokoh. Dalam hati, kenapa air harus dipagari??? Ada cerita dari pengelola warung makan di depan hotel kami. Air bersih merupakan harta berharga di Agats. Tidak jarang terjai pencurian air bersih di daerah ini. Orang-orang harus membeli harga yang cukup mahal untuk mendapatkan air bersih, jika tidak salah 50 rb per 5 jerigen air bersih.

Kota Agats juga terdapat museum. Lokasinya tidak jauh dari tempat saya menginap. Museum yang terletak di dekat tempat saya menginap. Museum berkelir putih ini sudah tampak tua pun penjaganya tidak ada. Untukmemasuki museum ini, teman saya harus memanggil yang berjaga terlebih dahulu. Masuk di musem, saya dicengangkan dengan koleksi yang ada di museum tersebut. Di ruangan pertama bayak disimpan koleksi pahatan-pahatan hasil karya masyarakat mulai dari yang kecil sampai yang seukuran manusia. Kualitas pahatan yang dihasilkan sangat memanjakan mata, halus!! Teman saya berkata bahwa untuk menghaluskan pahatan tersebut tidak digunakan amplas!!! Luar biasa! Memasuki ruang kedua, terdapat koleksi buaya yang kono katanya buaya terbesar yang berhasil ditangkap warga. Selain itu juga terdapat baju perang salah satu suku di Asmat. Diantara kedua ruangan itu terdapat lorong yang berisi foto-foto asmat jaman dahulu. Tidak lupa juga terdapat motor listrik yang dipakai oleh Presiden Joko Widodo, presiden pertama yang mengunjungi Asmat, saat berada di Agats.

Transportasi di kota Agats adalah yang paling unik. Ketika perusahaan-perusaan otomotif masih mengembar-gemborkan mobil listrik, di kota Agats semua motor merupakan sepeda motor listrik. Banyak sekali lalu lalang motor berpenggerak listrik di kota ini. Kendaraan dengan bahan bakar bensin jarang terlihat, bahkan tidak pernah terlihat melintasi jalan-jalan kota. Selama di kota Agats, sya hanya beberapa kali melihat kendaraan bermotor yaitu motor dinas dari kepolisian dan motor roda tiga untuk mengaggkut barang. Selain motor listrik sebagai alat transportasi utama, juga terdapat perahu dan speed boat sebagai alat transportasinya. Ketika air pasang, pada jam-jam tertentu perahu bisa masuk ke dalam kota melawati lorong-lorong jalan. Seperti di Venecia!!!

Lokasi menarik berikutnya di kota Agats adalah dermaga. dermaga menjadi tempat yang menarik terutama ketika menjelang sore hari. Banyak aktivitas masyarakat di sekitar dermaga. di jalan menuju dermaga merupakan pusat ekonomi masyarakat sekitar, banyak berjajar toko-toko yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok. Tidak jarang juga dijumpai kerajinan tangan masyarakat sekitar seperti tas noken. Masuk di dalam dermaga, banyak masyarakat bercengkramam, memancing bahkan banyak juga anak kecil terjun dari dermaga. dermaga ini juga merupakan lokasi yang tepat untuk menikmati matahari yang selesai bertugas.

Tepat di samping dermaga, terdapat sosok patung yang tampak begitu asing. Patung seukuran orang dewasa berperawakan orang asing kulit putih mengenakan baju putih dengan aksen hitam dan memegang alkitab, saya duga itu adalah patung seorang rohaniwan katolik. Dan benar saja, berdasarkan cerita dari teman saya, patung tersebut adalah patung seorag pastor yang bernama Jan Smith. Konon patung ini adalah sebagai penghormatan kepada Pastor Jan Smith atas jasanya untuk pendidikan di kota Agats. Alasan didirikannya patung ini adalah semasa hidupnya pastor ini memperjuangkan pendidikan untuk masyarakat Agats, tetapi karena suatu konflik pastor tersebut dieksekusi tepat di lokasi patung tersebut berada oleh tentara waktu itu. Sebelum meninggal dunia, pastor tersebut sempat berucap bahwa kota Agats akan teggelam sepenuhnya oleh air dan tidak akan kering. Hal itu benar terjadi, jika dilihat dari foto-foto yang berada di museum, dulu masyarakat kota Agats bisa berkatifitas di daratan, tetapi sekarang sepenuhnya kota Agats adalah lumpur sehingga masyarakat tidak beraktifitas di atas tanah. Baru setelah patung tersebut didirikan, air mulai mengering di kota Agats.

Perjalanan ke Agats membuka pikiran saya bahwa Indonesia ini luar biasa!!

5 pemikiran pada “Berada di kota dimana semua orang tidak berdiri diatas tanah

  1. Besok kita main keperumahan perumnas yuk mas.. di Kuala kapuas juga sama perumahannya diatas air, mungkin jalannya aja yang diuruk. Itu pengalaman pertama juga buat aku lihat konstruksi rumah panggung, yang beneran diatas air.

    Disukai oleh 2 orang

      1. Itu 1 komplek juga diatas air.. ngga semua siih prasarananya tetap diatas tanah hehe.. buat pondasinya itu loh pake galam segede gede gitu.. kaya buat pasak bumi wkwk.. tapi itu keunikan dan kearifan lokal 😁

        Suka

  2. Rumah-rumah panggung seperti ini juga banyak di Kalimantan. Selain itu ada juga pasar apung, tapi bukan berupa bangunan. Pasar di atas prau. Para pedagang menjual jajanannya di atas prau. Di dayung menghampiri pembeli. Sama halnya dengan pembelinya.

    Di Kalimantan Selatan, khususnya di sekitar sungai Barito, banyak rumah-rumah seperti ini. Jadi pingin kesana lagi.

    Disukai oleh 1 orang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s